Category Archives: Jamaah Islamiyah

Imam Samudera cs and Mantan Presiden Soeharto

CILACAP. Majafile, 24 Januari 2008 – Tiga terpidana mati kasus bom Bali I (Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Ghufron alias Muklas), tetap tegar meskipun ajal sudah semakin dekat. “Sekalipun dihadapkan regu tembak, rambut saya tidak akan bergerak,” kata Amrozi di Lapas Besi, Nusakambangan.  Adapun Imam mengatakan, jika dia harus mati, itu adalah takdir dan syahid. .  Imam aka Abdul Azis juga menulis lima lembar suratnya yang ditulis tangan untuk mantan Presiden Soeharto yang saat ini terbaring sakit di RS Pusat Pertamina, Jakarta.”Pak Harto memiliki dosa-dosa di masa lalu, mulai penerapan KUHP, pembantaian umat muslim di Tanjung Priok, Lampung, dan Aceh termasuk menilap uang rakyat,” katanya. Jika hukum Islam ditegakkan di Indonesia, Imam menilai, hukuman setimpal untuk korupsi Soeharto adalah potong tangan. Sementara Muklas menambahkan “Kami tak akan bodoh meminta grasi. Itu hukumnya haram mengakui hukum KUHP,” katanya berapi-api.

Di bagian lain, pelaksanaan eksekusi bagi tiga terpidana mati kasus bom Bali I itu agaknya bakal mundur. Kemungkinan tersebut tersirat dari pengakuan panitera/sekretaris Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1 B Cilacap Suroso ketika bertemu koordinator Tim Pembela Muslim Achmad Michdan di kantornya kemarin sore (24/1).  Suroso mengakui, Amrozi dkk belum menerima haknya karena terpidana mati bom Bali I itu seharusnya menerima salinan putusan penolakan peninjauan kembali (PK) yang asli, bukan fotokopi. Mereka hanya menerima lembar penolakan PK fotokopi pada 2 Januari lalu, tanpa legalisasi, sehingga tidak bisa dianggap dokumen hukum. PK menjadi isu penting bagi nasib Amrozi dkk. Kejaksaan Agung memberi tenggat 30 hari bagi Amrozi dkk, jika tidak mengajukan grasi selama waktu itu atau hingga 31 Januari, Kejaksaan Agung mengancam akan melakukan eksekusi. “

Why Jemaah Islamiyah still Exist ?

CTI. 24 Januari 2008. Hingga saat ini JI masih dan ditengarai sedang melakukan pembenahan organisasi. JI sebagai organisasi yang cukup besar yang anggotanya ratusan orang, tidak akan hilang hanya dengan menangkap para pemimpinnya. Mereka terus melakukan perekrutan, baiat, latihan. Juga diduga masih memiliki kemampuan terror. Beberapa pemimpinnya masih dalam pengejaran. Hingga 16 Juni 2007 beberapa tokoh yang diincar Polri selain Noordin Moh Top adalah ahli pembuat bom yaitu Abu Pati dan dr Agus, Upik Lawanga yang terlibat dalam Bom Bali, dan pemimpin wilayah (Ishobah) I (Solo) dan IV (Jakarta). Salah satu hal yang membuat JI sulit diberantas adalah JI memiliki pendanaan mandiri dan swadaya sebab sejauh ini belum ditemukan data-data bahwa JI menerima dana dari luar negeri. Namun menurut Nassir Abbas, mantan Ketua Mantiqi III (semacam pemimpin wilayah), JI pernah menerima bantuan dana asing yang salah satunya diterima dari pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden.

Sejak awal tahun 2000, JI memiliki strategi pola perubahan pengumpulan dana. Ada beberapa petinggi JI yang menghalalkan pengumpulan dana dengan melakukan perampokan terhadap orang-orang nonmuslim. Perubahan pola pendanaan dengan menghalalkan perampokan juga diakui oleh Nasir Abbas. Nasir menyebutkan beberapa aksi perampokan yang dilakukan JI, antara lain perampokan toko emas di Serang (2000), perampokan bank di Medan (2001), perampokan bank di Malaysia, dan perampokan gaji PNS Pemda Poso (2005, era Abu Irsyad) sebesar Rp. 583 juta. Abbas, kakak ipar Muklas alias Ali Gufron dan terpidana mati kasus Bom Bali I, menambahkan pendanaan JI diperoleh dari infak sukarela, infak 5% dari penghasilan anggotanya, infak fi sabilillah dan sedekah. Infak fi sabilillah ini yang digunakan untuk mengirim anggota JI ke daerah konflik atau latihan ke kamp-kamp militer di Afghanistan,Filipina, atau Thailand. Sedekah diasanya dikumpulkan saat anggota JI mengadakan pengajian.