Majapahit dan Situasi Dunia Saat Itu

Majapahit, kerajaan besar Nusantara yang berdiri abad XIII hingga XIV, adalah kelanjutan kerajaan Singosari yang berpusat di Malang. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 dan memerintah hingga 1328. Pada masa Raja Hayam Wuruk Majapahit memiliki Perdana Menteri Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa Di belahan Timur Tengah kala itu dikuasai oleh Khilafah Bani Abbasiyah yang bermula pada 750 M, dan saat berdirinya dan berkuasanya Majapahit adalah rentang masa penguasa Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M) hingga Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M).  Boleh dibilang tidak ada berita yang menonjol yang terkait dengan Majapahit lkala itu.  Sementara itu, sekitar tahun 1277 muncul karya pemikir Aquinas yang disambut baik oleh beberapa peneliti namun tidak  oleh Gereja. Pada tahun tersebut  Uskup Besar (archbishop) Paris menyatakan pandangan Aquinas sebagai bid’ah (heresy), dan hal tersebut dinyatakan juga oleh Uskup Besar Inggris. Namun seiring dengan perubahan dan diterimanya filsafat oleh gereja maka pada 1323, Pope John XXII mensucikan (canonize) Aquinas. Sementara itu pada 1294, King Edward I dari Inggris dan Philip IV dari Perancis berselisih paham.

Kembali ke Majapahit, letak ibukota Majapahit pernah diteliti oleh Henry MacLaine Pont (1924), seorang insinyur Belanda yang sangat berminat pada situs Trowulan dan kemudian ia mendirikan Museum Purbakala Trowulan. Pada 21 Mei 2006 Anam Anis, Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotra Wilwatikta mengatakan, keberhasilannya menyusun peta ibukota Majapahit yang luasnya diperkirakan 10X10 km2 (versi lain 9X11m2). Wilayah tersebut meliputi meliputi Kecamatan Sooko, Trowulan dan Jatirejo di Kabupaten Mojokerto dan kecamatan Mojoagung, Mojowarno serta Sumobito di Kabupaten Jombang dengan ibukotanya Trowulan. Situs-situs yang memperkuat ilustrasi pusat kota ini antara lain Candi Muteran, Candi Gentong, Candi Tengah, tempat kediaman Gajah Mada, kediaman kerabat kaum raja dan tempat pemandian para putri kerajaan. Peta ibukota Kerajaan Majapahit ini juga melibatkan ahli arkeologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Nurhadi Rangkuti.  Oleh karenanya kita mendukung jika situs bekas ibukota Kerajaan Majapahit ini akan dikembangkan menjadi kawasan Cagar Budaya Nasional, Pusat Wisata Budaya, Pusat Studi Sejarah, Kepurbakalaan dan Kebudayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s