Category Archives: Nusantara Tempo Dulu

Never Forget Boven Digoel, A Historical City

Currently, Boven Digul is not Digul in the past. At this time Digul has been acknowledged as the Boven Digul Regency. In the past Boven Digoel, which directly shares the border with neighboring Papua New Guinea, previously was known as the place of the political prisoners. According to Ensiklopedi Nasional Indonesia Boven Digul was used for a prison for Indonesia movement leaders and at least totaling 1308 fighters to be sent there as a result of carrying out the revolt against the Netherlands during 1926 and 1927 in Jakarta. Up until 1942 Digoel was still being used as the prison by the Dutch Government. Leading figures of the national movements who had been thrown away were Sayuti Melik (1927-1938), Mohammad Hatta (1935-1936), Muchtar Lutffi, and Ilyas Yacub (Permi and PSII Minangkabau).

Soetan Sjahrir, who had been imprisoned there in 1934, in a book entitled Meditation and the Indonesian Struggle (published by Dian Rakyat-Jambatan, Jakarta) said that Digoel was like Europeschewijk (the European settlement). There were a cinema, ballroom, hospital, school, mosque, church including the performance of art and sport. Writers could still look for additional income by sending their articles to newspapers outside Papua. Living in the Boven Digoel was free because they could run a business, work in the farm, and teach in private schools for their children. Remember that Pontjopangrawit master musician of the court of the central Javanese city of Surakarta, who was interred there between 1927 and 1932 was successful to create the Gamelan Digul, an orchestra of Javanese gamelan instruments made at Tanah Merah camp on the Digul River.

They could feel at home in the place that was full of mosquitoes due to the help of the Papuan community. They were united with the local inhabitants and of course helped each others. It is not surprising that their positive emotions formed during their interaction can continue until now. Due to their harmonious relationship, Netherlands failed to isolate Bung Hatta and Soetan Sjahrir and decided to move them to the Banda Island (see Hatta Memoir published by Tinta Emas). Papua Governor Barnabas Suebu SH has reminded the younger generation that the Boven Digoel prison served as the leading thread in the history of the Indonesia struggle because the nation’s best sons such as Hatta, Sjahrir, and others were isolated by Dutch colonial. Therefore, he added, the Tanah Merah must be made as “a Heroe City” such as Surabaya Kota Pahlawan and Bandung Lautan Api. The similar statement was also stated by Boven Digoel Regent Yusak Yaluwo during the celebration of the 62th Republic of Indonesia that the Boven Digoel Prison was the site for Indonesia national struggle, meaning it is proved that Papua is an integral part of the territory of the Republic of Indonesia.Last month, Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono attended the commemoration of Youth Day event to be held in the Boven Digoel District, South Papua. At that time, the head of state also laid a stone which would mark the construction of Bung Hatta`s monument in remembrance his fighting spirit. One of Bung Hatta`s daughters, Meutia Hatta who is now the state minister for women`s empowerment also attended the stone-laying ceremony.

Trem di Jakarta Dulu

 

 http://img464.imageshack.us/img464/1269/debrug024bi.jpg

Kalau kita pergi ke beberapa kota di luar negeri, terkadang kita sebagai orang Indonesia masih terheran dengan adanya Trem yang ada. Sebenarnya kita, kota Jakarta, pada masa dulu tahun 1920-an hingga diberhentikannya pada era 1970-an. Tadi saya kebetulan ngobrol dengan seseorang asal Sumedang yang sudah sejak lulus SD tinggal di Jakarta mengisahkan hal tersebut. Harganya waktu itu murah jika dibandingkan dengan kendaraan umum. Namun katanya, jika dari Sumedang berangkat jam 4.00 pago maka akan sampai di Jakarta jam 5.00 sore. Dibanding saat ini Sumedang – Jakarta bisa ditempuh cukup tiga jam.

Kembali ke Tram, ia sempat mengingat bahwa jalur Tram, bisa dipakai kendaraan lain, berbeda dengan Bus Way sekarang yang jalurnya hanya boleh dipakai Bus Way. Tetapi tentunya kendaraan dulu tidaklah sebanyak sekarang. Namun kita harus percaya bahwa busway yang pertama kali diperkenalkan pada Januari 2004 dengan route (koridor) satu hingga selesainya pada koridor lima belas tahun 2010 akan memiliki dampak positif. Tentunya jika pembangunan dilakukan dengan terencana seperti dibukanya akses dari daerah pinggiran ke pusat kota.  Bus way telah terbukti mempersingkat waktu tempuh, meningkatkan keamanan transportasi, memperbaiki kedisiplinan menggunakan jalan, dan mempromosikan kebiasaan berjalan kaki. Kita tingga menunggu terbentuknya park-ride and kiss-ride, seperti di luar negeri.  Namun jangan sampai terjadi eksploitasi di sepanjang koridor seperti membangun pusat-pusat kegiatan masyarakat terutama kegiatan bisnis langsung di tepian jalan. Pembangunan sebaiknya dilakukan dalam cluster-cluster. Selamat menikmati Bus Way.

Majapahit dan Situasi Dunia Saat Itu

Majapahit, kerajaan besar Nusantara yang berdiri abad XIII hingga XIV, adalah kelanjutan kerajaan Singosari yang berpusat di Malang. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 dan memerintah hingga 1328. Pada masa Raja Hayam Wuruk Majapahit memiliki Perdana Menteri Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa Di belahan Timur Tengah kala itu dikuasai oleh Khilafah Bani Abbasiyah yang bermula pada 750 M, dan saat berdirinya dan berkuasanya Majapahit adalah rentang masa penguasa Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M) hingga Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M).  Boleh dibilang tidak ada berita yang menonjol yang terkait dengan Majapahit lkala itu.  Sementara itu, sekitar tahun 1277 muncul karya pemikir Aquinas yang disambut baik oleh beberapa peneliti namun tidak  oleh Gereja. Pada tahun tersebut  Uskup Besar (archbishop) Paris menyatakan pandangan Aquinas sebagai bid’ah (heresy), dan hal tersebut dinyatakan juga oleh Uskup Besar Inggris. Namun seiring dengan perubahan dan diterimanya filsafat oleh gereja maka pada 1323, Pope John XXII mensucikan (canonize) Aquinas. Sementara itu pada 1294, King Edward I dari Inggris dan Philip IV dari Perancis berselisih paham.

Kembali ke Majapahit, letak ibukota Majapahit pernah diteliti oleh Henry MacLaine Pont (1924), seorang insinyur Belanda yang sangat berminat pada situs Trowulan dan kemudian ia mendirikan Museum Purbakala Trowulan. Pada 21 Mei 2006 Anam Anis, Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotra Wilwatikta mengatakan, keberhasilannya menyusun peta ibukota Majapahit yang luasnya diperkirakan 10X10 km2 (versi lain 9X11m2). Wilayah tersebut meliputi meliputi Kecamatan Sooko, Trowulan dan Jatirejo di Kabupaten Mojokerto dan kecamatan Mojoagung, Mojowarno serta Sumobito di Kabupaten Jombang dengan ibukotanya Trowulan. Situs-situs yang memperkuat ilustrasi pusat kota ini antara lain Candi Muteran, Candi Gentong, Candi Tengah, tempat kediaman Gajah Mada, kediaman kerabat kaum raja dan tempat pemandian para putri kerajaan. Peta ibukota Kerajaan Majapahit ini juga melibatkan ahli arkeologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Nurhadi Rangkuti.  Oleh karenanya kita mendukung jika situs bekas ibukota Kerajaan Majapahit ini akan dikembangkan menjadi kawasan Cagar Budaya Nasional, Pusat Wisata Budaya, Pusat Studi Sejarah, Kepurbakalaan dan Kebudayaan.